Sebuah Puisi

1.  SUARAMU
Suara balik berbolak balik
Seperti suara gelombang air disamudra
Kebingungan arah 
Ruangan air di atas daun talas yang selalu berganti arah membingungkan
Kemarin kau ikrarkan 
Aku tidak merencanakan 
Menikahimu adalah sandi 
Suaramu sebagai saksi
Dan bait-bait ucapanmu 
Begitu tegas aku dengarkan 
Walau relung hatiku penuh 
Sayatan luka seperti pedang
Yang didadaku aku tetap 
Diam tetap aku saring 
Diam sabar dan sering menangis
Tak seorangpun mengerti seperti sutradara cinta yg datang lalu pergi
Mendung belum tentu hujan begitu cepat simpul keputusan tanpa memikir penyesalan 

Aku tidak merencana menikah denganmu 
Itukah suara hatimu yang kau lontarkan dan kau suguhkan seperti hidangan untukku.
Aku bukan seperti kumbang petualang yg terbang hinggap sana sini menghisap madu mencari kehangatan,kenikmatan.
Aku seberkas cahaya tuhan mencari teman hidup seperti Adam dan hawa biar sempurna saling mencintai 
Hatiku, cinta tulus dan murni 
Sampai akhir hayat hingga surgawi.
(NANO)

2. KOPI SENJA
Senja ku puja.
Menyelinap dalam sunyi

Di batas waktu, kutemukan hening yang suci.
Ada rindu yang tak pernah lelah menunggu.
Di bawah langit yang perlahan kehilangan biru.

Kopi ku puja.
Hangatnya menari di bibir.
Mengiringi lamunanku yang tak pernah berakhir.

Setiap teguk membawa jejak kenangan.
(WL)
#Indah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Coretan Sederhana dan Manja

Sedalam Apa Lagu "VERONIKA" di NTT?

Melodi Indah di Kampung Bungan