Cerpen Di Buritan Kapal
Oleh: Fitriana Harianti Mahasiswi Universitas Triatma Mulya Bali Bertahun-tahun pendatang silih berganti. Pelabuhan Jangkar menjadi saksi atas akulturasi budaya, tentang kisah kisah cinta, para pencari kerja, tentang perbedaan bahasa, bahkan air mata. Kakiku terseok saat meniti anak tangga kapal. Petugas kapal: "Hati-hati dek kalau naik" Aku: "ia pak terima kasih" Aku bergeming, dan mencari nomor kamar untuk ditempati. Tampaknya Aku merasa sangat bosan karena dari tadi sibuk memainkan ponsel dan kapal masih belum tolak karana menunggu beberapa penumpang lainya. Aku memojokkan diri di buritan dan potret beberapa foto panorama laut. Kini jam keberangkatan telah tiba, bunyi klakson kapal sudah terdengar. Aku melambaikan tangan untuk terakhir kalinya sembari mata yang sembab. Kapal terus memecah ombak dengan haluannya, melihat pelabuhan Labuan Bajo kini menjauh dan membawaku sampai terlihat mengecil bahkan tertutup oleh kabut. Diam membisu seribu bahasa sepanj...