Tarian Rawa; Cerita Tentang Kekere Si Kembar Siam
Nama kampung yang menjadi topik utama dalam tulisan ini mempunyai sejarah yang panjang dan keunikan yang sangat khas dibandingkan masyarakat kampung lain. Kampung itu bernama Bungan. Kampung Bungan tepatnya berada di desa Mbengan kecamatan Kota Komba kabupaten Manggarai Timur. Kampung Bungan berada dibagian paling timur setelah kampung Golowatu dan kampung Leke Nanga.
Kampung Bungan adalah kampung tua dan penuh dengan sejarah yang penuh makna. Ada salah satu keunikan yang vertilitas dalam benak penulis di kampung kecil nan indah ini yakni sebuah tarian yang bernama tarian rawa. Seperti kebanyakan kampung-kampung lainnya di Manggarai, kampung Bungan juga mempunyai tarian Caci, tarian Danding serta Umbi Ro. Namun yang paling unik dan khas dikampung ini adalah tarian Rawa.
Tarian Rawa sangat jarang dibawakan oleh masyarakat Bungan. Bukan tanpa alasan. Tarian ini sangat khas dan penuh mistis. Lalu bagaimana sejarah Tarian rawa ini?
Konon tarian rawa dilakoni oleh masyarakat Bungan untuk menangkal cacat kelahiran seseorang yang berkepala kembar dalam satu tubuh (kembar siam). Menurut cerita yang dituturkan secara turun temurun di Bungan, ada seorang yang bernama Kekere yang hidup di kampung Bungan. Kekere ini lahir dengan kondisi yang tidak normal yakni berkepala dua. Dikarenakan memiliki dua kepala, bayi ini diberi nama Keke dan Re atau Kekere. Di kemudian hari, kepala Kekere yang pertama atau si Keke meninggal dunia. Tentu ini menimbulkan polemik dalam masyarakat kalah itu. Warga kampung mulai berasumsi yang aneh- aneh. Kekere kemudian mengalami kesulitan hidup atau kesengsaraan. Bisa dibayangkan bagaimana sulit hidupnya kalah itu. Kemudian warga kampung mengasingkan Kekere.
Melihat keadaan Kekere yang sengsara, terbersit dalam pikiran masyarakat kampung untuk menguburkan Kekere hidup-hidup. Itulah mengapa bunyi, nyanyian atau lantunan dalam rawa kebanyakan oo ae oo ae yang adalah bahasa alam atau ratapan tangis menghantar Kekere ke tempat peristirahatan terakhir. Bagaimana kalian menggambarkan suasana saat itu sobat. Dimana re ini dikubur hidup-hidup mengingat Keke meninggal duluan. Re mengiklaskan supaya dia bersama Keke dihantar ketempat peristirahatan terakhir yakni di liang kubur.
Ritual budaya ini, dalam hal ini tarian rawa dibuat oleh orang Bungan saat Noko lodong moi gori, leghak kiwan (pembukaan kebun baru) atau bahasa Manggarai pada umumnya peso beo penti weki yang artinya ritual membuka musim tanam baru. Tarian rawa adalah doa masyarakat Bungan agar segala marabahaya terutama kejadian yang menimpa Kekere tidak terulang kembali. Selain tarian ini, masih ada banyak keunikan lain di kampung Bungan nan indah dan berseri ini.
Tarian rawa tidak ada erat kaitannya dengan milik suku yg itu ataupun suku yang ini. Tarian rawa bukan milik sebuah suku atau perorangan. Tarian rawa ini adalah milik semua orang Bungan. Tarian ini adalah hasil ekstrak pengalaman atau kejadian dalam keseharian hidup mereka. Sebagai catatan terakhir, tarian rawa menjadi ritual budaya orang Bungan agar kembar siam atau sejenisnya tidak terjadi lagi dalam kehidupan orang Bungan.
Tabe(By: Nano)
Komentar
Posting Komentar