Cerpen Di Buritan Kapal
Oleh: Fitriana Harianti
Mahasiswi Universitas Triatma Mulya Bali
Bertahun-tahun pendatang silih berganti. Pelabuhan Jangkar menjadi saksi atas akulturasi budaya, tentang kisah kisah cinta, para pencari kerja, tentang perbedaan bahasa, bahkan air mata.
Kakiku terseok saat meniti anak tangga kapal.
Petugas kapal: "Hati-hati dek kalau naik"
Aku: "ia pak terima kasih"
Aku bergeming, dan mencari nomor kamar untuk ditempati.
Tampaknya Aku merasa sangat bosan karena dari tadi sibuk memainkan ponsel dan kapal masih belum tolak karana menunggu beberapa penumpang lainya.
Aku memojokkan diri di buritan dan potret beberapa foto panorama laut. Kini jam keberangkatan telah tiba, bunyi klakson kapal sudah terdengar.
Aku melambaikan tangan untuk terakhir kalinya sembari mata yang sembab. Kapal terus memecah ombak dengan haluannya, melihat pelabuhan Labuan Bajo kini menjauh dan membawaku sampai terlihat mengecil bahkan tertutup oleh kabut.
Diam membisu seribu bahasa sepanjang perjalanan tapi tidak dengan seisi kepala yang konflik bertentangan menimbang sebuah sajak perkabungan untuk mengenang, aku hanya mengenyam sunyi digempur badai kerinduan.
Untuk apa aku pergi sejauh ini? Pertanyaan ini muncul kerap menghantam pikiranku, tetapi jawab seolah seolah misteri yang tidak pernah terpecahkan.
Malam telah tiba. Waktu berlalu begitu cepat, secepat detak jarum jam berbunyi nyaring di telingaku. Semua orang sibuk mencari tempat tidurnya masing. Namun aku memilih untuk berdiam diri membelakangi linggi kapal dan menatap seisi jagat raya.
Aku Lala. Lala adalah seseorang gadis yang pandai dalam membaca dan menulis. Dia hidup bersama ibunya disebuah desa dengan hamparan alam yg indah.
Seusai tamat sekolah Lala memiliki mimpi untuk bisa lanjut ke bangku Universitas agar menjadi seorang Penulis. Karana memiliki keterbatasan ekonomi mimpi Lala yang sekian lama di langit akan dikubur.
Itulah mengapa ia memilih keluar dari kepompong untuk mengetahui kehidupan diluar. Menurut lala menulis ada suatu terapi terhadap keinginan yang gagal dicapai.
Berkat kegigihan dalam berimajinasi banyak tulisan lala menginspirasi banyak orang bahkan terdapat beberapa buku karyanya. Sungguh menakjubkan.
Pancaran langit sore dari ufuk dengan cahya kemerahan yang disuguhkan terlihat memesona dari buritan kapal.
"Ah, ini yg aku tunggu dari panjangnya perjalanan.
" ujar Lala sambil mengeluarkan beberapa jenis buku karyanya dan buku diary.
Lalu ia menyimak suasana berlayar dikala senja.
Saat sedang membaca, seorang pria matanya tertuju pada seorang wanita yang paras cantik dengan rambut ikalnya yang sepanjang perjalanan berdiri di buritan.
Pria itu menatap Lala dengan tatapan sayu, sontak mata Lala membalasnya dengan rasa iba. Pria itu adalah Teguh. Ia memiliki tipikal humble, dan mudah memiliki rasa simpati, empati.
Wanita mana yang tidak menyukai kepribadian Teguh.
Teguh memiliki masa lalu yakni hubungan asmaranya dengan wanita bernama Diana.
"Ada apa dengan pria itu"? pinta Lala
Teguh bergegas. "Hallo itu lagi tulis apa?"
"Haloo"! Respon Lala dengan spontan.
"Btw kenalin aku Teguh. "Sambil ingin meraih tangan Lala. "Aku Lala" Balasnya.
"Itu lagi tulis apa?" Gumamnya untuk menghidup suasana.
"Oh ini aku lagi menulis surat," jawab Lala.
Mereka berdua berdiri sejajar dan diapit oleh linggi kapal sebagai tempat sandaran. Mata Teguh tidak dengan sengaja tertuju pada tulisan Lala yang berbunyi:
"Apakah kapal yang aku tumpang akan menepi kembali"
Ataukah ia memilih untuk berlabuh "
Melihat tulisan itu Teguh bersuara.
"Dia tidak akan menepi kembali dan berlabuh di dermaga di tanah seberang"
Lala: "Dari mana kamu tau. Apakah kamu sudah merasakan?.
Teguh berusaha tarik nafas dan air matanya berai
Lala: "Hey aku tidak memintamu untuk menangis;
Teguh: " Izinkan air mataku menyamarkan air laut. Hkkk.. Hkkk (Menangis)
Tiga tahun yang lalu aku memiliki nahkoda tempat aku berlabuh, namun ia meminta agar aku mengizinkan dia untuk menepi.
Awalnya aku tidak ingin hal ini akan terjadi karena dari sekian panjangnya perjuangan akan berakhir dengan jarak. Namun aku gagal.
Dia bersi keras dengan dengan segala paksaan.
Teguh: "Okei kalau ini permintaan mu. Tpi tolong Ingat baik, perjuangan kurang lebih 3 tahun bukan waktu yang singkat bagiku"
Diana: "ya aku berjanji akan kembali. Tunggu aku di Dermaga. "
Namun semua omong kosong! Semuanya hanyut oleh laut. Dermagaku yg sekian lama aku tunggu nahkodanya belum kembali.
Dimana janji itu? Apakah aku harus menunggu?
Ah lebih baik aku berlayar itulah mengapa aku ada disini.
Lala: " Tapi aku masih benar percaya bahwa ia akan kembali"
Teguh: "Mungkin ? Tapi ia memiliki jangkar. Dan sekarang aku sudah tidak ada dimasa itu lagi"
Sambil menulis di sehelai kertas putih "Tiga tahun berakhir" .
Dan ia melipat kertas itu kemudian melemparnya ke laut dgn dengan melupakan rasa sedih nya.
Dan sekarang aku seperti lahir kembali memulai harapan dari awal lagi gumamnya. Lala mengangguk dan berusaha menjaga privasi masa lalunya agar tidak terkesan mengadu nasib tentang hubungan asmaranya.
Namun keluh kesah, pengalaman, bahkan kegagalan ,menulis menjadi tempat Lala mencurah isi hatinya.
Tatapan Teguh tertuju pada Lala yg sibuk sedang mencari nomor halaman novel yg ingin dibaca.
"Itu buku apa La?" Pintanya ingin membangun suasana.
Lala tidak bersuara. Karana suasana hati Teguh masih muram.
Lalu Teguh mengambil satu buku Lala yg covernya 'Seni Menyembuh Sakit hati'.
Ia membaca halaman per halaman sampai selesai, mungkin ia terlalu penasaran dengan isi buku tersebut yang sesuai dengan apa yang ia rasakan kegagalan dalam hubungan asmaranya.
Namun di bagian awal buku ada terisi nama pengarang nya yaitu Lala.
Teguh: "Ini pengarang siapa La? kalau boleh tau?"
Lala: " Itu sudah ada nama pengarangnya."
Teguh "Wah luar biasa ya" Ini memang benar karyamu?" tanya Teguh.
Lala berusaha menebar senyum tipis, "Iya" Sahutnya.
Kenali aku lebih dalam lewat buku itu.
Kalimat demi kalimat Teguh menyimak setiap bait tulisannya, terdapat beberapa pengalaman di kehidupan nyata sang penulis, yakni tentang masa lalunya.
"Ternyata lala memiliki nasib yang sama denganku". Gumam Teguh sambil diam membisu sepanjang perjalanan.
Tubuh Lala yang mungil dingin menggigil bagai kapas yang membeku di laut lepas. Bibir yang enggan berkata antara mereka berdua.
Teguh: " Kmu kenapa La?" Tanya Teguh berusaha menghidup suasana.
Lala: " Tidak, aku hanya kedinginan."
Teguh: " Oh ya, bukunya sudah selesai aku baca. Luar biasa ya," Pujinya.
Teguh: "Terima Kasih Lala banyak pembelajaran yang aku bisa ambil dari isi buku ini. Inspirasimu memang obat terbaik bagi orang yg patah."
Teguh: "Mungkin aku urutan ke ratusan dari orang " Diluar sana membaca buku ini."
Lala: " Tidak, kamu pertama dari mereka!"
Teguh: "(Tersipu malu). "Hmmmm"
Teguh: '"Apakah sekarang sudah bertuan?" Tanya Teguh.
Lala" Humfffff. Bukankah buku ite menjelaskan tentang saya lebih dalam?"
Teguh " Okei sudah jelas.
Laut dihamparkan sebagai tatapan visual bersama citraan alam yang menjadi umum dalam upaya penyair menciptakan panorama puitik, bulan, ombak dan langit sore.
Laut dan buritan yg mempertemukan aku dengan keluasan gelagat citraan alam demi menyorongkan refleksi suatu kerinduan dan harapan. Mereka berdua berdiri membelakangi linggi. Bersejarah.
Teguh bersuara: "Aku mau di buritan ini menjadi tempat kisah kita berdua bertemu . Agar samudra luas ini tau kita memiliki kenangan hebat disini Yakni moment kenikmatan bisa dinikmati dalam satu waktu lautan, senja, dan sosok wanita yg menghidupkan aku kembali dengan inspirasi karyanya. Dan untuk tulisanmu, "
Lala: "Apakah kapal yang aku tumpang akan menepi kembali"
"Iya!!" Ucap Teguh. Karana kamu sudah menemukan nahkodanya di buritan ini. Selesai!! ***

Komentar
Posting Komentar