Bulan Maria; Masih Adakah Kokis Ene?



Kita memasuki bulan Mei atau biasa juga disebut Bulan Maria. Pada bulan ini, doa-doa akan bergilir di setiap rumah.

Satu hal yang identik dengan bulan Maria yaitu setelah selesai doa, akan ada acara makan minum yang disiapkan oleh tuan rumah.

Kalau kami di sini, untuk mengiringi kopi pahit, andalan yang selalu disiapkan adalah Kokis Ene. Sudah pernah dengar namanya?

Kalau belum, saya kasih tau. Jadi Kokis Ene adalah semacam kue goreng. Bahannya adalah dari pisang masak diulek dengan tepung dan air.

Tidak banyak bahan. Tiga itu saja. Eits tapi ada minyak goreng juga. Cara buatnya juga simpel kok. Habis dicampur merata, Ya tinggal digoreng. Tidak rumit. 

Hidangan satu ini sudah menjadi bagian dari keunikan bulan Maria. Tapi tidak sembarang rumah menyiapkan hidangan ini loh. Soalnya kalau hidangan Kokis Ene terus, maka rumah akan dipenuhi anak-anak kecil. 

Mereka, selain karena ditekan guru-guru di sekolah, Kokis Ene juga menjadi alasan pergi doa giliran. Karena memang hidangan ini rasanya enak sekali. 

Kadang juga saat sebelum pembawa doa mengucapkan doa penutup, sudah ada anak-anak yang menuju dapur untuk menyiapkan Kokis Ene dan kopi. 

Dan yang uniknya lagi, mereka yang pelayan tidak minum bersama orang tua. Dapur akan menjadi kuasa mereka. Maka segala yang berkaitan dengan Kokis Ene akan mereka habiskan. Hahaha lucu mereka. 

Tapi selain Kokis Ene, ada juga teko. Teko itu keladi. Bukan batang ataupun daun. Tapi yang diambil adalah isinya yang didalam tanah. 

Teko akan dimasak hingga matang. Bisa masak sekalian dengan kulit, bisa juga dibersihkan dulu kulitnya. Teko ini menjadi hidangan andalan mama-mama di dapur.

Nanti untuk pendorongnya, mereka akan membuat nggurus. Btw, nggurus itu bahasa kami di Mok sini. Nggurus adalah cabe. Nggurus ini nanti yang jadi teman makan ubi keladi. 

Karena tanpa nggurus, keladi itu seakan tidak ada nafsu untuk dimakan. Maka nggurus menjadi penolak paling ampuh sepanjang keladi ada di piring.

Namun jika dibandingkan dengan Kokis Ene, keladi masuk posisi kedua. Karena Kokis Ene masih menjadi andalan. 

Tapi kini Kokis Ene sudah jarang terlihat. Bukan karena tidak mau buat, tapi stok pisang sudah tidak ada. Saya penulis tulisan ini secara pribadi baru makan pisang 1 kali selama 2025. Hadeh.

Kita doakan, semoga Pisang cepat pulih dari sakitnya. Supaya Kokis Ene ada lagi. Anak-anak rindu Kokis Ene. Enaknya sampe gigitan terakhir.

Ya walaupun waktu kecil juga begitu. Tapi tidak sebegitu juga. Terima kasih sudah baca. 

Btw, Enu Silfianey Banang pinjam fotonya. Saya cari-cari foto kokis ene tidak ada, eh ketemu di postingannya ite itu foto, hehe.

Tag: #kokisene #bulanmaria #bulanmei #doagiliran

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Coretan Sederhana dan Manja

Sedalam Apa Lagu "VERONIKA" di NTT?

Melodi Indah di Kampung Bungan