Bapa Suci Pergi Tinggalkan Cinta; Sebuah Puisi Karya Rober Jemali
Hari ini, dunia berduka. Air mata mengalir. Semua menangis. Seperti mawar tanpa wangi. Meratapi kepergian Bapa Suci, Paus Fransiskus. Ia telah berpulang kepada Bapa di Surga. Meninggalkan cinta dan harapan. Serta kasih yang tak lekang oleh suara keras zaman ini. Kehilangan Mu Bapa. Hati kami lara nestapa. Ada raga luka derita. Ada ribuan mulut haus dahaga kasih sayang sesama. Ada jutaan jiwa lapar cinta persaudaraan. Mengembara di padang pasir kering. Penuh debu dendam, Dibakar terik marah dan kobaran api senjata kesombongan. Adakah secercah cahaya di malam panjang ketakpastian? Adakah setetes embun kasih sayang di ladang pasir derita? Mungkinkah temukan oase cinta di gersang gurun hampa harapan? Kini kami diam Bapa. Menunduk sambil mengusap kepala. Betapa engkau tega tinggalkan kami dalam kebimbangan. Betapa engkau tega menyisakan cinta yang tak terbalas. Wahai Bapa Suci. Doamu, laksana nyala lilin bagi kegelapan malam duka lara kami. Kehadiranmu, menjadi obat luka derita kami. Solida...